Memahami Sosiologi Islam

12 05 2006

Ilmiah: Memahami Sosiologi Islam Ali Shari’ati

 

 

MEMAHAMI SOSIOLOGI ISLAM ALI SHARI

 

PENGANTAR

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ali Shari’ati adalah seorang doktor sosiologi dan filsafat, alumni Perancis, aktif dalam pergerakan revolusi Iran tahun 70-an khususnya melalui tulisan-tulisannya. Shari’ati mengklaim bahwa uraiannya merupakan tinjauan sosiologi Islam, yaitu uraian sosiologis yang bersumber dari fenomena, pesan-pesan, konsep-konsep di dalam Islam. Ia tidak setuju dengan pendekatan sebaliknya yakni pendekatan yang mendeduksi begitu saja konsep-konsep atau teori sosiologi ke dalam ajaran Islam.

Ali Shariati mencoba menguraikan fakta dan logika di dalam sejarah dan konsep-konsep di dalam agama Islam dengan menggunakan model analisis sosiologi dan hasilnya memang menarik sekali, meskipun di akhir uraiannya saya merasakan ada kesimpulan Shariati yang tak lepas dari konteks revolusi Iran saat itu.

HIJRAH

Ali Shari’ati memulai dengan pertanyaan kenapa hijrah itu begitu penting? Kita dapat pula bertanya , mengapa tahun Islam dimulai dari saat nabi hijrah? Mengapa tidak dimulai dari tahun kelahiran nabi?

Ternyata hijrah (perpindahan, migrasi) itu tidak hanya merupakan fenomena geografis/politik, tapi secara sosiologis hijrah itu merupakan fenomena fundamental dalam kemajuan peradaban. Setiap kemajuan peradaban, dari Summeria sampai dengan Amerika, selalu diawali dengan peristiwa hijrah. Dan, tak satu pun suku-suku yang menetap (tidak berhijrah) bisa mencapai kemajuan dalam peradabannya.

UNIK

Selanjutnya dalam fenomena kenabian, nabi Muhammad saw sungguh unik secara sosiologis, beliau tumbuh dan dibesarkan pada kawasan yang fakum, di luar pengaruh hegemoni peradaban2 yang maju saat itu, yaitu Romawi dan Parsi. Lalu dari sudut teori sosialisasi beliau juga tak tersentuh oleh agen-agen sosialisasi primer layaknya, semasa kecil Indonesian Muslim Society in America (IMSA) beliau adalah anak yatim yang diasuh bergantian dan menjadi penggembala. Dari sudut teori perubahan sosial, dengan sendirinya peranan beliau juga sangat unik, karena dengan latar belakang seperti itu bisa melakukan perubahan sosial luar biasa luas dan dalam.

Namun, sesuai dengan teori perubahan sosial, Islam menghargai peranan the people/pengikut itu sendiri, mengingat nabi sebenarnya hanya penyampai pesan sedangkan the people itu sendiri yang menentukan apakah mereka mau menolak atau menerima. Seorang nabi tidak bisa memaksakannya karena memang tidak ada paksaan pula dalam agama. Ayat-ayat Qur’an selalu menekankan al nas ini: ya ayyuhannas, jadi secara konseptual posisi the people itu amat penting di dalam Islam.

FREE WILL

Dalam konsep manusia, Islam menekankan pentingnya free will, manusia terbuat dari tanah liat dan ruh ilahi yang ditiupkan kepadanya dan hanya manusia /individu itu sendirilah yang nantinya harus menentukan dirinya mau memilih ke arah sifat Tuhan atau kebawa godaan setan. Selanjutnya secara konseptual, di dalam Islam, manusia juga menerima tugas sebagai wakil Tuhan di bumi, manusia adalah khalifatullah fil ardh.

Ini tugas berat tapi mulia. Jadi, secara konseptual manusia dalam Islam sebenarnya lebih tinggi dari sekedar konsep humanisme, tidak pula sama dengan konsep dosa turunan.

UMMAH

Dalam struktur sosial, konsep ‘ummah’ di dalam Islam memiliki makna yang lebih bersahabat, lebih damai, lebih beramanah daripada sekedar konsep society, apalagi kalau hubungan antar kelompok social di dalamnya bersifat eksploitatif dan imperialistic seperti terjadi dalam banyak sejarah masyarakat manusia, maupun kehidupan masa kini.

CATATAN

Di atas saya katakan bahwa di akhir uraian Shari’ati terselip subyektivitas pengaruh revolusi Iran. Ini saya catat dari penegasan Shariati mengenai pentingnya peranan immamah. Saya tidak menemukan uraian atau alasan yang cukup mengapa Shari’ati sampai pada kesimpulan itu. Saya lalu menduga mungkin itu pengaruh suasana revolusi Iran saat itu dan kalau alas an itu diuraikan bias saja merupakan halpositif yang kita belum tahu.

Terus terang saya baru membaca satu* ini saja dari buku-buku yang membahas tentang sosiologi Islam. Saya mendengar buku karya Tabrani dan Ibnu Khaldun katanya telah meletakkan dasar-dasar analisis sosiologi, sayang saya belum sempat membacanya. Kalau menunggu seselai membaca buku-buku tersebut mungkin saya baru bisa menulis untuk IMSA tahun depan. Tentunya kalau ada kawan-kawan yang pernah baca buku-buku Ibnu Khaldun, khususnya al Mukadimmah, silakan dishare di forum ini.

Kalau ada komentar, koreksi, atau tambahan, tentu saya dan kita semua akan berterima kasih.

Wassalamu laikum warahmatullahi wabarakatuh.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: