Mendidik Anak dengan Perhatian

22 05 2007

anak sekolahSebagaimana kewajiban memberi makan, minum, dan pakaian kepada anaknya, setiap orang tua wajib memperhatikan dan menyuburkan hati mereka dengan ilmu dan iman serta memakaikan pakaian takwa pada ruhaninya.

“Hendaklah kalian mencegah mereka dari apa yang dilarang oleh Allah dan menyuruh mereka mengerjakan apa yang diperintahkan oleh-Nya. Hal itulah yang menjadi benteng antara mereka dengan api neraka”. Demikian Umar bin Khatab ra memberikan tafsiran pada Alquran surat At Tahrim: 6. Penafsiran ini sebagai bentuk perhatian yang harus diberikan setiap orang tua kepada anaknya.

Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang mendidik anaknya itu lebih baik dari pada ia bersedekah dengan satu gantang”. Sabdanya pula: “Tidak ada pemberian seorang ayah terhadap anaknya yang lebih utama dari pada pendidikan moral yang lebih baik”. (HR. Tirmidzi).

Anak adalah amanat bagi orang tuanya. Mereka bertanggung jawab atas pendidikan, agama, dan akhlak anak-anaknya. Anak-anak yang lebih baik akan menjadi permata hati bagi mereka di dunia dan akhirat. Firman Allah SWT: “Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucunya yang ikut beriman, kami gabungkan anak cucu itu dengan mereka, dan kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka.

Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya” (QS. Ath Thuur [52]:21).
Lantas, bagaimana memaksimalkan perhatian kepada anak, sehingga dengan siapa ia berteman, di lingkungan mana ia bergaul, diketahui dengan baik? Dengan hal itu, perkembangan anak dalam pembinaan akidah, moral, spiritual dan sosial, jasmani dan daya ilmiahnya terperhatikan dengan maksimal. Demikian, hal-hal yang perlu diperhatikan orang tua dalam mendidik anaknya adalah:

  • Sebagaimana kewajiban memberi makan, minum dan pakaian kepada anaknya, setiap orang tua wajib memperhatikan dan menyuburkan hati mereka dengan ilmu dan iman serta memakaikan pakaian takwa pada ruhaninya. Hal ini diwujudkan dengan menanamkan akidah sejak dini, diawali dengan pembinaan prinsip-prinsip tauhid sebagai fondasi keimanan.
  • Memperhatikan moral. Diwujudkan dengan menanamkan kejujuran, sifat amanah dan akhlak yang baik serta memilihkan teman bergaul, lingkungan dan bahan bacaan yang baik.
  • Memperhatikan mental anak. Diwujudkan dengan membentengi anak sejak awal dari kebiasaan buruk dan membahayakan mental dan intelektual anak seperti masturbasi dan penggunaan obat terlarang.
  • Memperhatikan sisi kejiwaan. Sebagai contoh, jika anak menunjukkan gejala minder, pemarah, atau pendiam harus ditelusuri penyebabnya, apakah karena dihina, kefakiran, atau sebab lain. Kemudian cari solusinya dan atasi dengan bijaksana dan penuh perhatian.
  • Memperhatikan segi sosial. Orang tua hendaknya memantau anak tentang pemenuhan hak orang lain, memiliki sifat empati, rendah hati, belas kasih, santun dan bertanggung jawab.
  • Memperhatikan segi spiritual. Diwujudkan dengan mengusahakan agar anak memiliki sifat khusyu, taqwa, rajin, dan semangat beribadah.
  • Memperhatikan jasmani. Diwujudkan dengan memberi makanan halal dan baik, menciptakan rumah yang sehat, bersih, membiasakan olahraga, kecenderungan pola makan dan hidup teratur.
  • Memperhatikan segi intelektual. Orang tua hendaknya membimbing dan melatih anak dengan penuh kesabaran dalam belajar, membiasakan membaca Alquran serta berusaha memupuk daya ilmiahnya dengan berbagai ilmu pengetahuan. Insya Allah segala perhatian yang diberikan kepada anak-anak kita, bila dilakukan dengan sepenuh hati akan membuahkan anak-anak yang sukses dan shaleh.
  • Wallahua’lam (dari:MQ…)

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: